Selasa, 04 Februari 2014

Bertemu atau tidak, Allah tahu yang terbaik

sebesar apa cintaku padamu? | waktu kelak akan memberitahu

karena rasa ini belum pantas diucap | tidak selagi aku masih belum siap

karena satu ucapan bisa menodai hati | noktah maksiat yang menenggelamkan diri

aku terlanjur terjembab dalam lubang rasa | bicara atau diam itu sama-sama menyiksa

namun bila terucap bukan hanya menyiksa namun sisakan dosa | karena kita sama-sama belum siap dan memendam rasa bisa jadi nista

masa depanku dan masa depanmu siapa yang tahu? | namun terkadang kebodohan mengambil alih akal sehatku

kukira dengan mencurahkan rasa ini padamu akan menenangkan | padahal kutahu itu awal musibah yang berujung pada penyesalan

maka mungkin diam adalah jalan yang terbaik | atau kujadikan saja ia beberapa lirik?

bagaimanapun aku tak punya muka | bila harus memulai dengan maksiat

maka biarlah rasa ini masih terpendam tanpa diungkap | sampai waktunya aku mampu dan pantas untuk bercakap

seberapa besar cintaku padamu? | mungkin engkau takkan pernah tahu


Kadang ketakutan memeluku | kau hilang dan aku tetap sendiri

Takdirku kau atau bukan itu aku tak tau | aku hanya tak ingin melanggar prosedur Tuhan.


Kadang setan membisik | aku pecundang menggantung wanita baik

Aku jawab | ambil saja untuk mu


-Felix Siaw & some adding from Ucu Suhendar-  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar